Bandung – Dalam zaman digital sekarang, orang tidak hanya membeli barang hanya untuk fungsinya, tetapi juga untuk penampilannya yang cantik di media sosial. Kemasan skincare berwarna lembut, gelas kopi transparan, kalender akrilik, dan alat tulis dengan desain imut saat ini adalah bagian dari gaya hidup baru yang diadopsi banyak anak muda bukan hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai elemen estetika yang ingin ditunjukkan. Fenomena ini disebut dengan konsumsi estetik, di mana aspek visual dan identitas menjadi pertimbangan utama yang sama pentingnya, atau bahkan lebih, dibandingkan dengan fungsi produk itu sendiri.
Platform media sosial seperti TikTok, Pinterest, dan Instagram memperkuat tren ini. Sebuah video unboxing dengan pencahayaan yang bagus bisa membuat ribuan orang merasa mereka juga memerlukan barang tersebut. Meski sebenarnya, banyak dari barang-barang itu mungkin tidak akan sepenuhnya digunakan, atau malah hanya menjadi hiasan di meja belajar atau sudut kamar.
Bagi generasi yang terbiasa dengan era visual digital, estetika sudah berubah dari sekadar selera menjadi sebuah bahasa. Sebelum conversasi dimulai, seseorang bisa dinilai melalui feed Instagram, grid outfit, atau moodboard Pinterest miliknya. Warna, bentuk, dan gaya bukan sekadar pilihan pribadi melainkan simbol identitas: menunjukkan siapa mereka, bagaimana cara mereka ingin dipersepsikan, dan persona digital apa yang ingin mereka ciptakan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan faktor psikologis yang lebih dalam. Banyak anak muda membeli barang estetik sebagai bentuk aspirasi usaha menjadi versi diri yang lebih baik. Video-video rutinitas sehari-hari yang menampilkan rumah yang rapi dengan warna beige, meja kerja yang minimalis, atau ritual perawatan kulit yang teratur menciptakan gambaran kehidupan yang terorganisir. Di tengah kehidupan yang sibuk dan penuh tekanan, barang-barang estetik menyediakan ilusi ketenangan dan stabilitas.
Selain itu, estetika kini telah menjadi bentuk kapital sosial. Barang-barang yang menarik secara visual tidak hanya digunakan, tetapi juga difoto, direkam, dan dibagikan. Barang fungsional hanya memiliki kegunaan, sementara benda estetik menawarkan dua keuntungan: bermanfaat secara fisik dan berharga sebagai konten. Di era ketampakan dan interaksi yang berharga, ini menjadi semacam mata uang baru.
Ada juga pengaruh dari dopamin. Penelitian tentang desain produk menunjukkan bahwa warna lembut, tekstur halus, dan kemasan mengkilap dapat memberikan rangsangan sensorik yang memicu perasaan bahagia sesaat. Banyak konsumen mungkin tidak menyadari, namun reaksi emosional kecil ini membuat produk terasa lebih menarik daripada hanya fungsi dasarnya.
Namun, fenomena ini tidak luput dari kritik. Di balik daya tarik visual, terdapat masalah yang serius: kemasan yang indah sering kali merugikan lingkungan, produk dibuat untuk bersifat viral ketimbang tahan lama, dan budaya belanja impulsif meningkat karena rasa takut untuk ketinggalan tren atau hasrat untuk memiliki identitas estetik tertentu.
Beberapa analis menyebut situasi ini sebagai jenis baru dari kapitalisme sebuah kapitalisme yang dibalut dalam nuansa pastel dan slogan inspiratif. Berbeda dengan iklan yang agresif di masa lalu, merek sekarang lebih fokus dalam menawarkan kenyamanan, mencintai diri sendiri, dan konsep “gaya hidup ideal”.
Namun, tidak semua orang melihat perkembangan ini dengan cara negatif. “Bagi sebagian Gen Z, barang-barang estetis bukan hanya sekadar keinginan sesaat. Mereka bisa berfungsi sebagai cara untuk menghadapi stres yang datang dari sekolah dan lingkungan sosial,” ungkap seorang analis tren digital dalam sebuah wawancara untuk laporan gaya hidup 2025. Barang-barang ini membantu menciptakan kebiasaan harian yang membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih pribadi, lebih lembut, atau lebih menyenangkan.
Kesadaran atas isu tersebut mulai menimbulkan gerakan baru yang dinamai “cantik tetapi praktis”. Gerakan ini tidak menolak estetika, melainkan mendorong penciptaan produk yang tidak hanya menarik, tetapi juga berguna, tahan lama, dan memiliki alasan logis di balik desainnya. Misalnya, planner yang menarik dengan sistem produktivitas yang berbasis ilmiah, botol minum yang cantik namun dapat dicuci kembali, serta produk perawatan kulit yang dikemas dengan indah tetapi bisa diisi ulang.
Artinya, generasi muda tidak ingin memilih antara fungsi dan estetika mereka ingin mendapatkan keduanya
Perkembangan ini menunjukkan perubahan menarik dalam budaya digital saat ini. Estetika bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian penting dari cara generasi muda hidup dan mengatur kehidupan mereka. Di dunia yang cepat, penuh tekanan, dan sering kali tidak pasti, hal-hal kecil yang indah memberikan sedikit jeda. Menuangkan susu oat ke gelas transparan bisa menjadi momen tenang sederhana. Mengatur planner pastel bisa memberikan rasa kontrol. Menggunakan pensil warna lilac bisa menjadi cara kecil untuk merayakan diri.
Mungkin beberapa orang melihat tren ini sebagai bentuk konsumsi yang dangkal. Namun orang lain bisa melihatnya sebagai perkembangan cara manusia memahami kepemilikan: bukan hanya “apakah ini berguna? ”, tetapi “apakah ini mencerminkan siapa saya baik dalam kehidupan nyata maupun daring? ”
Selama pertanyaan itu tetap ada, tren barang-barang cantik tampaknya bukan sekadar fenomena viral sementara tetapi merupakan bentuk komunikasi baru dalam konsumsi, identitas, dan kehidupan digital generasi ini.










