Bandung – Sampah kerap dipandang sebagai sisa yang tak lagi berguna. Namun, di balik tumpukan yang terus bertambah, sampah sebenarnya mencerminkan bagaimana masyarakat menjalani kesehariannya, mulai dari apa yang dikonsumsi, bagaimana kebiasaan dibentuk, dan sejauh mana kepedulian terhadap lingkungan tumbuh.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa pada 2023, timbunan sampah di Indonesia mencapai sekitar 17 juta ton per tahun. Komposisi terbesar berasal dari sampah sisa makanan 44,9%, disusul sampah plastik 18,9% dan kertas 11,1%. Angka ini menegaskan bahwa persoalan sampah sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Rumah tangga tercatat sebagai penyumbang sampah terbesar, yakni 38,9% dari total timbunan nasional, melampaui pasar tradisional dan pusat perniagaan. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berada di ruang publik, tetapi berakar dari ruang paling personal: rumah.
Melalui video edukasi bertajuk “Bijak Kelola Sampah Menuju Gaya Hidup Berkelanjutan untuk Generasi Mendatang”, Tunas Hijau Indonesia menekankan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, salah satunya memilah sampah dari rumah. Pemilahan menjadi kunci agar sampah dapat dikelola dengan tepat sesuai jenisnya.
Sampah organik, misalnya, tidak harus berakhir sebagai beban lingkungan. Dengan pengelolaan yang tepat, sisa makanan dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman. Sebaliknya, sampah yang tidak terkelola dengan baik justru menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan.
Lebih jauh, persoalan sampah tidak hanya soal teknis pengelolaan, tetapi juga kesadaran kolektif. Masyarakat yang peduli dan bertanggung jawab memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Pendidikan lingkungan, terutama bagi generasi muda, dipandang sebagai investasi jangka panjang menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Sampah, pada akhirnya, menjadi cermin gaya hidup masyarakat. Cara manusia memperlakukannya menunjukkan sejauh mana kepedulian terhadap bumi dan generasi mendatang. Di tengah krisis lingkungan yang kian nyata, bijak mengelola sampah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bersama.










