Bandung, 26 Januari 2026 – Masyarakat kini menjadikan kebiasaan membawa tas belanja sendiri bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan langkah konkret untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Masyarakat menggunakan tas belanja guna ulang sebagai solusi yang lebih ramah lingkungan.
Kantong plastik selama ini menjadi salah satu penyumbang utama sampah lingkungan. Sifatnya yang sulit terurai membuat plastik menumpuk di tempat pembuangan akhir, mencemari sungai, hingga berakhir di laut dan mengancam ekosistem.
Namun, manfaat tas belanja guna ulang sangat bergantung pada perilaku konsumenWWF Indonesia menegaskan bahwa penggunaan tas guna ulang akan berdampak positif apabila masyarakat benar-benar menggunakannya secara konsisten dan dalam jangka panjang.
“Pergantian dari kantong plastik ke tas guna ulang harus disertai perubahan kebiasaan. Jika tas kain hanya digunakan sekali lalu ditinggalkan, dampaknya justru tidak signifikan,” tulis WWF Indonesia dalam kampanye pengurangan plastik sekali pakai.
Sejumlah pusat perbelanjaan dan ritel modern di Indonesia juga mulai membatasi penggunaan kantong plastik dan mendorong konsumen membawa tas belanja sendiri. Kebijakan ini mengawali pembentukan kebiasaan belanja yang lebih ramah lingkungan.
Meski demikian, pihak terkait masih menghadapi tantangan nyata di lapangan. Banyak konsumen mengaku telah memiliki tas belanja guna ulang, tetapi sering lupa membawanya atau tetap memilih kantong plastik karena alasan kepraktisan. Pengamat lingkungan menilai bahwa masyarakat dapat mengambil langkah sederhana namun berdampak besar dengan menggunakan tas belanja guna ulang secara konsisten. Perubahan kebiasaan kecil dalam aktivitas sehari-hari mampu membantu mengurangi timbunan sampah plastik dan menjaga kelestarian lingkungan.










