Bandung — Pasar Induk Caringin membuktikan bahwa sampah tidak selalu identik dengan persoalan lingkungan. Pengelola pasar menghadirkan inovasi sistem pengolahan terintegrasi yang mampu mengubah sisa sayuran menjadi pakan ternak, pelet, bioetanol, hingga briket.
Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah di kawasan pasar sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar. Penerapan sistem terintegrasi juga dinilai mampu mengubah paradigma lama bahwa sampah hanyalah beban.
BP3C menggerakkan pengelolaan tersebut dengan memanfaatkan sisa sayuran dari aktivitas perdagangan harian untuk diolah secara berkelanjutan. Kepala BP3C, A. Syarief Hidayat, menyebut inovasi ini mulai membantu mengatasi persoalan sampah di Pasar Induk Caringin.
“Sampah sayuran kita olah menjadi pakan ternak sapi dan kambing, pelet, dan produk lain. Ini punya nilai ekonomi yang cukup tinggi,” ujarnya.
Fakta ini menunjukkan bahwa pengolahan limbah tidak hanya berdampak pada pengurangan pencemaran, tetapi juga menghadirkan prospek bisnis yang menjanjikan. Selain itu, aktivitas produksi turut menyerap tenaga kerja, terutama dalam proses pemilahan, pengolahan, hingga distribusi.










