Pasar Induk Caringin, Bandung, kini mengelola sampah secara mandiri setelah sebelumnya bergantung pada TPA Sarimukti. Pembatasan pengangkutan sampah dari 10 rit menjadi 3 rit per hari sempat membuat sampah menumpuk, hingga pengelola harus mencari solusi baru.
Kini, pengelola mengolah sampah bersama PT Solusindo Bio Teknologi (SBT). Mereka mengubah sampah organik menjadi pakan ternak dan silase, memanfaatkan residunya sebagai briket, serta mengolah cairannya menjadi biotanol. Hanya sisa sampah yang tidak dapat diolah yang mereka buang ke TPA Sarimukti. Dengan satu shift, pengolahan bisa mencapai 18 ton per hari.
Sistem ini juga mewajibkan pedagang untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Satgas khusus secara aktif mengawasi pelaksanaan serta memberikan edukasi. Hasilnya, pasar kini jauh lebih bersih, dan target zero waste mulai terlihat.
Meski menanggung biaya pengelolaan yang tinggi, pengelola tetap mengenakan tarif iuran yang wajar kepada pedagang dan menutup sebagian biaya melalui subsidi silang. Pengelola berharap sistem ini bisa menjadi contoh pengelolaan sampah yang ramah lingkungan sekaligus bermanfaat secara ekonomi.










